ASAL USUL WALI SONGO

Posted on Februari 16, 2009


pro dan kontra wali songo…

Prof Slamet Mulyana pernah berusaha untuk mengungkapkan Sejarah Asal Usul Wali Songo  dalam bukunya “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara”, tetapi pada th 1968 dilarang beredar, karena masalah ini sangat peka sekali dan mereka menilai menyakut masalah SARA.

Kenapa demikian? Bayangkan saja yg mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa, bahkan Sultan nya yg pertama pun adalah orangTionghoa : Chen Jinwen alias Raden Patah alias Panembahan Tan JinBun/Arya (Cu-Cu). Walisongo atau Walisanga yg berarti sembilan (songo) Wali, tetapi ada juga yg berpendapat bahwa perkataan songo ini berasal dari kata”tsana” yg berarti mulia dlm bhs Arab sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari kata “sana” dlm bhs Jawa yg berarti “tempat” Para wali tsb mendapatkan gelar Sunan, yg berarti guru agama atau ustadz, namum perkataan Sunan itu sebenarnya diambildari perkataan “Suhu/Saihu” yg berarti guru dlm bhs dialek Hokkian, sebab para wali itu adalah guru2 Pesantren Hanafiyah, dari mazhab (sekte) Hanafi. “Su” singkatan dari kata “Suhu” dan “Nan” berarti selatan, sebab para penganut sekte Hanafi ini berasal dari selatanTiongkok. Perlu diketahui bahwa sebutan “Kyai” yg kita kenal sekarang ini sebagai sebutan untuk guru agana Islam setidak-tidaknya hingga jaman pendudukan Jepang masih digunakan untuk panggilan bagi seorang lelaki Tionghoa Totok, seperti pangggilan “Encek”.

Walisongo ini didirikan oleh Sunan Ampel pada th. 1474. Yg terdiridari 9 wali yaitu: Sunan Ampel alias Bong Swie Ho, Sunan Drajat alias Bong Tak Keng, Sunan Bonang alias Bong Tak Ang, Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang, Sunan Gunung Jati alias Du Anbo – Toh A Bo, Sunan Kudus alias Zha Dexu – Ja Tik Su, Sunan Giri adalah cucunya Bong Swie Ho, Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat, Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias raden Rahmat lahir pada th 1401 di Champa (Kamboja), ia tiba di Jawa pada th 1443. Pada saat itu di Champa banyak sekali orang Tionghoa penganut agama Muslim yg bermukim disana. Pada th 1479 ia mendirikan Mesjid Demak. Ia juga perencana kerajaan Islam pertama di Jawa yang beribu kota di Bintoro Demak, dengan mengangkat Raden Patah alias Chen Jinwen – Tan Jin Bun sebagai Sultan yang pertama, ia itu puteranya dari Cek Kopo di Palembang. Orang Portugis menyebut Raden Patah “Pate Rodin Sr.”

Sebagai “personade grande syso” (orang yg sangat bijaksana) atau “cavaleiro”(bangsawan yg mulia), walaupun demikian orang Belanda sendiri tidak percaya moso sih sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa. Oleh sebab itulah Residen Poortman 1928 mendapat tugas dari pemerintah Belanda untuk menyelidikinya; apakah Raden Patah itu benar2 orangTionghoa tulen?

Poortman diperintahkan untuk menggeledah Kelenteng Sam Po Kong dan menyita naskah berbahasa Tionghoa, dimana sebagian sudah berusia 400 tahun sebanyak tiga cikar/pedati. Arsip Poortman ini dikutip oleh Parlindungan yang menulis buku yang juga kontroversial Tuanku Rao, dan Slamet Mulyana juga banyak menyitir dari buku ini.

Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini tercantum dlm Serat Kanda Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun, dan dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai Senapati Jimbun. Kata Jin Bun (Jinwen) dalam dialek Hokkian berarti “orang kuat”. Cucunya dari Raden patah Sunan Prawata atau Chen Muming/Tan Muk Ming adalah Sultan terakhir dari Kerajaan Demak, berambisi untuk meng-Islamkan seluruh Jawa, sehingga apabila ia berhasil maka ia bisa menjadi “segundo Turco” (seorang Sultan Turki ke II) setanding sultanTurki Suleiman I dengan kemegahannya.

Sumber:

- D. A. Rinkes “De heiligen van Java”
- Jan Edel “Hikajat Hasanoeddin”
- B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang
- Utrecht: Den Boer
- G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari : a 16th centuryJavanese Muslim text
attributed to the Saint of Bonang, The Hague:Martinus Nijhoff- De Graaf and Pigeaud “De
eerste Moslimse Vorstendommen op Java”
-”Islamic states in Java 1500 -1700″.- Amen Budiman “Masyarakat Islam Tionghoa di
Indonesia”
- Prof. Slamet Mulyana “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan TimbulnyaNegara-negara Islam
di Nusantara
- pay-dey “DS” Mania

Selanjutnya terserah dengan kepercayaan masing-masing.

About these ads