MENGENAL SEJATINYA DIRI

Sekelumit Kontemplasi Pencarian Jati Diri Semoga Ada Manfaatnya

Jangan Menyembah kalau tidak tau siapa yang disembah

Jangan memuji kalau tidak tau siapa yang dipuji

Bilamana kaulakukan juga

Kau seperti memanah burung

Tanpa melepas anak panah dari busurnya

Jika kaulakukan sia-sia

Karena yang dipuja wujud khayalmu semata

” Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu ” Barangsiapa mau lebih mengenal dirinya maka dia akan lebih mengenaL ( di bukakan hikmah ) Tuhannya.”

Untuk dapat mengenal Tuhan, kita harus tau siapa diri ini sebenarnya. Siapa sejatinya diri ini? Kalau kita bertanya saya itu yang mana? Sambil menunjuk diri, saya akan mengaku bahwa ini saya… tapi yang ditunjuk itu dadanya saya bukan saya. kalau ditunjuk kepala, itu kepalanya saya bukan saya… jika dijawab dengan saya adalah keseluruhan badan ini terdiri dari tangan, kaki, kepala dan anggota tubuh yang lainnya… itu bukan saya tapi itu adalah tubuhnya saya…

Jadi dimana saya sebenarnya? Dimana sejatinya diri saya? Tubuh itu ternyata bukan diri kita yang sejati melainkan perlengkapan untuk diri yang sejati, fahamilah bahwa diri kita sejatinya adalah “Ruh,” “nafas ilahi” yang ditiupkan kedalam jasad/tubuh oleh Allah Sang Pencipta, Ruh adalah sesuatu yang agung, lembut, indah & suci… Ruh tidak membutuhkan makan dan minum sebagaimana layaknya tubuh fisik ini, tidak mengenal kantuk dan tidur, tanpa sakit dan mati sesuatu yang abadi.…

Sekarang setelah mengetahui bahwa sejatinya diri ini adalah ruh, bagaimana cara kita mengenal ruh itu? Bagaimana memahami sejatinya diri? Mungkin kita telah mengetahui bahwa hidupnya kita dimuka bumi ini adalah karena adanya ruh di dalam tubuh.. tapi pernahkah kita menyadarinya? Menyadari ruh itu sendiri?, dimana letaknya pada tubuh?? Bagaimana bentuknya? Sifatnya apa..? Sampai sedemikian penjabaran yang dapat saya sebut, masuk pada areal pribadi dan mohon maaf belum dapat dijabarkan, pengalaman yang ada lebih ke pribadi masing-masing.

“Jika kamu ingin mengenal Tuhanmu, kenal dulu dirimu.

Jika kamu sudah kenal dirimu kamu akan kenal Tuhanmu,

Maka binasalah kamu”

dalam Al-Qur’an Allah telah berfirman kurang lebih seperti ini: “Kulirruhu min amri rabbi wamaa utiitum minal ilmi illa qallila” : “Sesungguhnya Ruh Itu Urusan Allah dan tidaklah kau diberi pengetahuan kecuali sedikit…”

Makna sedikit dalam ayat diatas merujuk pada pengetahuan Allah yang maha Luas, sedikit bagi Allah, adalah sangat banyak bagi mahluk yang serba terbatas ini, apapun itu bagaimana meraih yang sedikit itu agar kita bisa tau, mengerti, memahami dan akhirnya menyadari dan menghayati kesejatian diri yang pada akhirnya Insya Allah menunjukkan arah jalan kehidupan kita ke jalan kesejatian sebagaimana permohonan

“Ihdinassirath al Mustaqim : Jalan yang lurus jalannya orang-orang yang mendapat ridha.”

Dengan memahami kesejatian diri, maka makna diri sebagai hamba Allah akan masuk dan teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari, dari dirinya akan terpancar kesadaran berTuhan, perilakunya akan selaras dengan perintah-Nya dan jadilah ia hamba yang Rabbani, seorang rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta, keberadaanya ditengah masyarakat akan menyejukkan, ditengah alam akan menenangkan, diturunkan rahmat Ilahi dari langit dan berkah dari bumi ditempatnya berpijak dan disekitarnya.

Dan akhirnya, marilah kita sama memohon : “Semoga Allah merahmati kita semua, menuntun kearah kebaikan dan menjaga dari kesesatan… Amin”

Mari Bertafakur tentang Hidup dan Alam Semesta ini dalam Rangka Ber Makrifat kepada Allah

Berdasarkan firman Allah dalam surat AL Imron 190-191 :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal(tafakarun) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”

2 comments

  1. assalamualikum Ki;
    saya Asmawi Bin Mohamad, apakah ilmu ini bisa dituntut, maksud saya secara berguru dan adanya disiplin dan aturan dari guru?

    jawaban kibayu:

    Wa’alaikumsalam wr wb.
    Saudara asmawi, menuntut ilmu yang terbaik adalah digurukan langsung kepada guru.

  2. assalamualaikum, Kibayu….
    Saya Muhammad Shafiq Bin Samsudin dari Malaysia….
    apa perlu dilaku semasa menuntut ilmu di atas?

Komentar ditutup.